Persiapkan Harta, Ilmu, dan Izin Untuk Berhaji
04 Jul 2017 02:06:48 WIB | Adi Winarto | dibaca 772
Ket: NN
Foto: Dok. Pri



Dammam, LiputanBMI - Setelah dipastikan layak untuk berhaji tahun ini di web resmi Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, maka Anda dapat memulai persiapan praktis selanjutnya.

Jika waktu pembelian tasreh (surat izin berhaji) telah dibuka, maka Anda dapat memprosesnya. Tetapi sebagaimana biasanya, tasreh dapat dibeli secara online mulai tanggal 1 Dzulqadah setiap tahunnya.

Sambil menanti waktu tersebut, calon haji sebaiknya melakukan beberapa persiapan berikut ini.

1. Menyiapkan Dana yang Cukup

Salah satu syarat wajibnya berhaji adalah memiliki kemampuan dalam harta. Maka, seorang muslim yang belum mampu mengumpulkan hartanya untuk biaya hajian, tidak ada keharusan baginya untuk menunaikannya.

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tinggal di Arab Saudi, mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk pergi haji. Selain tidak perlu mengantri selama puluhan tahun seperti di Indonesia, biayanya pun relatif lebih murah.

Dengan mengikuti progam "low fare" atau "moyassur" hajian dalam negeri (local hajj), cukup merogoh kocek sebesar SR 4,000 hingga SR 5,000.

2. Membekali Diri dengan Ilmu

Berilmu sebelum berkata dan beramal merupakan keniscayaan, terutama dalam melaksanakan ibadah haji. Oleh karenanya, setiap calon jama’ah haji semestinya memahami dengan baik tata cara hajian.

Secara singkat hukum dan syarat, rukun, sunnah-sunnah dan kewajiban berhaji dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Hukum2 Haji
Ket. foto: Hukum-hukum Haji
Sumber foto: Dok. Pri

Adapun agar dapat memahami manasik haji, sebaiknya mengikuti pelatihan manasik haji yang diselenggarakan di forum pengajian masyarakat Indonesia di sekitar tempat tinggal TKI.

Dapat juga mempelajarinya secara online menyaksikan Youtube di kanal berikut ini: Info Hajian

3. Mengantongi Izin dari Sponsor/Majikan

Salah satu persiapan yang paling penting sebagai TKI adalah mendapatkan izin dari tempatnya bekerja, baik karyawan perusahaan ataupun pekerja domestik di perumahan.

Beberapa tahun silam, Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Haji dan Umrah, mewajibkan setiap calon haji untuk mengisi formulir yang ditandangani dan distempel pihak sponsor/majikan.

Setelah diberlakukan sistem tasreh online, maka izin tersebut tanpa disertai formulir cetak.

Perlu diperhatikan bahwa kesempatan haji belum tentu setiap tahun diperoleh. Maka, jika telah dirasa cukup mampu harta dan bekal ilmu, segeralah meminta izin ke majikan untuk berhaji.

Bisa jadi karena niat tulus ibadah, majikan tidak hanya memberikan izin, tetapi juga membiayai ongkos naik hajinya. Semoga!   (JLL, 04/07)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh